Februari 24, 2009 oleh Maya
Sore ini saya periksa lagi update terbaru situs dunia tumbuhan www.plantamor.com. Banyak tambahan profil tumbuhan rupanya. Satu jenis tumbuhan yang baru saya lihat adalah nam nam. Tumbuhan ini memang sudah termasuk langka. Generasi sekarang mungkin sudah nyaris tak pernah menemukan, apa lagi mencicipi buahnya.
Namun di luar semua itu, nam nam mengingatkan saya pada masa SD di kampung. Salah seorang teman memiliki tumbuhan ini di halaman rumahnya. Adakalanya, saat pohon ini berbuah, kami diajak ke rumahnya sepulang sekolah atau ia membawanya ke sekolah dan membagikannya kepada kami. Tak lupa, teman saya ini juga membawa sejumput garam untuk menambah rasa.
Rasanya yang asam cocok dimakan saat istirahat siang. Dan yang paling asyik adalah setelah buah itu habis dicicipi. Meminum segelas air putih menciptakan rasa manis di lidah, meski tanpa memakai gula.
O’ya… Buah nam-nam juga unik seperti halnya belimbing wuluh. Buahnya tumbuh di sepanjang batang, termasuk batang besarnya, dan bukan di dahan kecil yang terlindung daun.
Ya, begitulah. Pencarian saya di internet hari ini membuat nostalgia masa SD terkuak lagi. Meski sekolah kami hanya sekolah kampung, tapi seingat saya, suasana kampung membuat bersekolah justru terasa lebih indah.
Ditulis dalam artikel | Leave a Comment »
Desember 17, 2008 oleh Maya
Selama beberapa kali pindah rumah, baru kali ini saya merasa sangat nyaman bertetangga. Bukan berarti tetangga di rumah-rumah sebelumnya bermusuhan dengan kami, tapi kali ini hubungan pertetanggaan terasa lebih mutualis: Tanpa sadar ada rasa saling menjaga satu sama lain, ingin memberi satu sama lain, dan saling menghadiahkan senyuman satu sama lain.
Hal yang paling indah adalah keinginan untuk saling berbagi, terutama berbagi tanaman. Saya memang hobi merawat tanaman akhir-akhir ini. Mungkin karena para tetangga yang rata-rata usianya jauh lebih tua dari saya, melihat saya konsisten bercocok tanaman (meski hanya di dalam polybag atau pot). Oleh karena itulah, hati mereka jadi tergerak untuk menambah koleksi tanaman saya.
Tiba-tiba saja, tetangga saya yang pensiunan guru membawa satu pot tanaman asing dari Thailand yang menurut beliau sangat manjur untuk mengobati luka. Tentu saja itu hadiah gratis. Hari lainnya, saat saya meminta batang kenanga untuk distek, tetangga saya sebelah rumah menghadiahkan tanaman lainnya yang juga biasa dipakai untuk mengobati luka terbuka.
Dan yang paling hebat, di minggu ini, tetangga depan rumah saya menghadiahi saya sebuah pohon lengkeng yang sudah tumbuh hampir mencapai 2 meter tingginya. Beliau wanti-wanti untuk mengajaknya ikut berkunjung ke rumah baru kami di Tanjung Sari nanti.
Aduh senangnya! Saya juga tak lupa menghadiahi mereka dengan masing-masing satu pot sirih yang saya stek sendiri di dalam polybag. Sebagian yang lain saya hadiahi satu polybag sawi putih yang sudah menjelang panen. Beberapa orang memang belum kebagian, tapi saya berjanji akan memberikannya setelah agak santai untuk kembali membuat steknya.
Saya berdoa, mudah-mudahan pertetanggaan saya di Tanjung Sari nanti juga seindah saat ini. Setidaknya, setelah kami berkenalan dengan satu keluarga di belakang rumah di sana beberapa minggu yang lalu, saya optimis lingkungan sosial kami di sana juga akan sangat menyenangkan. Amin.
Ditulis dalam artikel | Leave a Comment »
November 30, 2008 oleh Maya
Tukang tahu itu menunda memasukkan tahu pesanan saya ke dalam kantong plastik. Wajahnya sedikit pucat, menatap cemas ke arah rombongan satpol PP yang melintasi jalan Otista dengan membawa sejumlah gerobak hasil “tangkapan”. “Antosan heula nya Neng, aya tibum! (tunggu dulu ya neng, ada tibum)”, ujarnya.
Terlihat jelas ia sudah siaga dengan situasi itu. Setelah keranjang tahunya ditutup, ia berdiri memikul dagangannya sembari menatap lekat ke arah rombongan tibum yang berlalu di lokasi itu. Kelihatannya satpol PP sudah cukup puas dengan hasil operasi hari itu, sehingga kawasan Pasar Baru dilewatkan saja dari penertiban. Usai ketegangan berlalu, para pedagang itu pun menurunkan dagangannya dan kembali bertransaksi.
Ada rasa hati yang terkoyak, “Duh, Tuhan… apa yang bisa aku perbuat dengan apa yang aku lihat?” Kesenjangan sosial itu sesungguhnya demikian terasa. Hanya puluhan meter dari para pedagang yang selalu didera cemas itu, berjejer toko-toko resmi, dan tentu saja mereka jauh lebih merasa aman karena mereka membayar pajak dan juga sewa toko.
Semua orang tahu, mengapa para pedagang kaki lima hingga kaki dua itu nekat berjualan di tempat yang dilarang pemkot, tak ada yang lain kecuali karena mereka ingin mendapat penghasilan yang lebih besar. Kebutuhan hidup yang kian meningkat membuat mereka terpaksa melakukannya. Saya melihat apa yang mereka lakukan jauh lebih mulia daripada melakukan korupsi tanpa malu dan bahkan juga takut. Gelembung anggaran proyek A, gelembung anggaran proyek C, atau kecil-kecilan melakukan mark-up dana training dengan melibatkan pihak ketiga.
Inti persoalan bukanlah pada sedikit atau banyaknya jumlah uang yang dikorupsi, melainkan sikap mental. Betapa banyak orang kini samar-samar membedakan pencurian dengan penggelembungan dana anggaran. Bukankah sesungguhnya hakikat keduanya sama saja, yaitu menginginkan sesuatu yang bukan hak miliknya.
Entahlah… Setidaknya inilah perenungan minggu ini setelah saya berhadapan dengan banyak persoalan yang menguji konsistensi saya.
Ditulis dalam artikel | Leave a Comment »