Peristiwa ini terjadi sekitar bulan November 2010. Sayang kalau tidak saya tuliskan. Moment untuk menertawakan diri sendiri dan mungkin suatu hari perlu sebagai pengingat bahwa terlalu pe de itu juga ada resikonya
Saya pergi sendiri ke toko buku hari itu. Tentu saja ke Jatinangor, karena di Tanjungsari belum ada toko buku. Ada rejeki dari menang lomba blog. Saya punya kewajiban moral untuk menyisihkannya, untuk menambah koleksi taman bacaan yang kami kelola. Kebetulan pula, tulisan yang menang juara 2 itu juga bertema tentang taman bacaan kami.
Berangkat dari rumah uang cash saya pas-pasan. Saya asumsikan asal cukup buat ongkos saja minimalnya. Saya bisa membayar buku dengan ATM debit card, karena di toko itu ada fasilitasnya. Mengambil uang bisa belakangan.
Semua proses belanja pun lancar dan saya naik lantai satu (toko buku di lantai dasar). Sambil menunggu escalator membawa saya sampai ke atas, perut terasa minta jatah. Memang sudah siang rupanya. Tapi saya ingat, uang saya pas-pasan banget tadi.
Tiba di atas saya coba periksa dompet, eh ternyata ada 15 ribu dan beberapa lembar ribuan serta uang receh. Ah, berhubung sedang sangat lapar, daripada jauh keluar mall saya pengen sekalian nyobain bakso yang sering disebut-sebut tetangga saya sebagai bakso spesial.
Supaya pasti uang saya cukup, saya coba mengintip dulu harga rata-rata per porsi yang tertera di luar. Ternyata harga berada di kisaran 15 ribu. Saya pun pe de, apalagi saat saya periksa dompet, masih ada uang ribuan juga selain lembaran sepuluh dan 5 ribu.
Dengan ramah pelayan ‘restoran’ bakso itu membukakan pintu untuk saya. Daftar menu pun diberikan pada saya dan saya memilih paket biasa yang harganya pas 15 ribu. Tapi sebelum pergi pelayan bertanya, “Minumnya apa, Bu?”. Ya, reflek aja, seperti biasa, yang relatif murah saya pilih teh botol.
Lima menit menunggu, bakso sudah datang, begitu juga minumannya. Salut, saya senang sekali dengan pelayanannya. Cepat, sigap. Terlebih sedang kelaparan, kesigapan seperti itu sangat membantu.
Sambil mencicipi bakso yang kata tetangga saya spesial itu, dalam hati saya cuma bergumam, “Biasa aja kali ya rasanya. Malah kalah dengan bakso di seberang jalan, di kios biasa, yang cuma 6 ribu-an semangkok”. Ah, sudah terlanjur. Namanya juga sekalian nyoba. Biar juga jadi tahu, tak selamanya harga makanan berbanding lurus dengan rasa.
Usai menyantap habis bakso, saya kembali memeriksa dompet. Uang saya ada 18 ribu ternyata, sisanya recehan. Saya kira cukup, karena biasanya teh botol sekitar 3 ribu-an. Saya pun beranjak dari kursi menuju kasir.
Kasir yang cantik dan masih muda itu pun menghitung dan menyebutkan angka yang harus saya bayar, “21 ribu, Bu”. Ups! Darah sedikit berdesir, naik ke kepala. “Ada nggak ya sampai segitu kalau ditambah recehan yang tidak sempat saya hitung tadi?” pikir saya.
Mencoba tenang, saya keluarkan dulu uang yang 18 ribu, “Bentar ya Mbak. Maaf ya pakai receh nih.” saya mengeluarkan semua receh dari dompet dan meletakkannya di meja kasir. Bagaimana perasaan kasir dan pandangan dia menyaksikan itu, saya tidak tahu persis, karena saya konsentrasi pada recehan yang nominalnya ternyata asli seratus rupiah-an. Dengan sabar si kasir menunggu saya meletakkan uang receh dan menghitungnya. Seribu, dua ribu, ya, akhirnya tercapai! Lega. Selamat saya dari insiden kekurangan uang.
Sebelum berlalu keluar, sepintas saya melirik meja kasir. Ah, ternyata ada mesin debit juga di situ. Kalau tahu dari tadi mungkin nggak mesti menguras dompet kayak tadi. Tapi, walau bagaimana pun, bisa melenggang percaya diri sehabis ketar-ketir menghitung recehan adalah pengalaman yang luar biasa. Menjaga performance tidak panik adalah sebuah keberhasilan
. Kadang-kadang hanya perasaan kita saja yang terlampau di bawa oleh suasana resto yang nampak elite. Mereka dan saya, sama-sama manusia. Yang penting bayar, kan? he he he
Jan 15, 2011 @ 13:48:23
saya jadi inget cerita…beberapa teman kita yg dikirim untuk melihat perkembangan teknologi di jepang…setelah session diskusi berakhir…panitia ngasih jatah waktu untuk sekedar jalan2 sekitar hotel…rombongan kita tentu saja antusias…ga sadar lama keliling2 perut akhirnya terasa melilit…hanya saja ketika mau masuk kedai makanan jepang semuanya jadi ragu…apa uangnya cukup…padahal saat itu mereka membawa uang yg lebih dr cukup…hehe
ya..terkadang lebih mengasikkan hidup di daerah, terlebih apabila kita bisa menemukan tempat makan yg tidak hanya mengenyangkan tapi memberikan rasa kekeluargaan dan tawa lepas kegembiraan…kadang kita harus jujur bertanya : “apa sebenarnya yg kita cari..”
Jan 15, 2011 @ 14:31:10
He he…. iya. Sejujurnya, selama ini saya lebih suka maka di warteg dan sejenis itu
Jan 15, 2011 @ 15:09:04
Mbak Maya, jadi teringat cerita masa muda nenek saya.
Saat itu nenek saya adalah remaja berusia 16-an, bertempat tinggal di suatu kota di Cina. Pada festival musim gugur, nenek dan kakak iparnya berjalan-jalan di bazaar setempat. Mereka membeli berbagai souvenir tanpa mengingat isi dompet. Masing-masing mengira uang saku yang lain masih ada.
Saat lelah dan lapar tiba mereka pun masuk ke warung mie. Setelah makan, masing-masing bertanya pada yang lain, “Kamu bayarin dulu, ya?” Lalu pucatlah mereka berdua. Tidak ada uang sama sekali pada mereka. Dan pada jaman 1920-an tidak ada ATM maupun kartu kredit.
Sebagai anak lurah setempat dan menantu lurah setempat, mereka harus menanggung malu dan berbisik pada pelayan, “Kami kehabisan uang. Mantel bulu dan perhiasan kami berdua biarlah menjadi tanggungan dulu. Besok kami akan kembali menebusnya.”
Bayangkan betapa merah padamnya pipi mereka, saat sang pelayan berteriak pada boss, “Boss, nonik-noniknya Pak Lurah kehabisan uang saku dan menjaminkan mantel serta kalung mereka. Besok mereka akan kembali.”
Hua, ha, ha, ha, ha, ha,…. inilah kenangan terindah dari nenekku tercinta.
Jan 15, 2011 @ 15:29:14
Mbak Loy. Cerita ini setidaknya membuat saya tidak merasa sendirian. ada yang lebih parah ternyata he he he….