Sebenarnya saya termasuk ringkih. Beberapa hari bugar, besoknya masuk angin, atau sebentar-sebentar sakit kepala. Entah sejak kapan awalnya, tapi begitulah yang terjadi beberapa tahun terakhir ini.
Menyadari kondisi tubuh yang tak selalu fit, sekarang saya jadi maniak kerja keras di saat kuat. Lelah bukan lagi musuh, tapi energi untuk terus bekerja. Dan dengan cara itu, saya jadi merasakan betul nikmatnya istirahat di sore hari.
Keasyikan bercocok tanam, memang membuat kulit jadi lebih gelap ya. Tapi melihat sayuran sudah mulai tumbuh dan bahkan bisa dipanen, rasa lelah tak lagi terasa.
Hal itu membuat saya menjadi sadar, mungkin itulah yang dirasakan para “pendekar” perempuan yang saya temukan di kawasan Tanjungsari ini. Perempuan yang satu adalah tukang beras bertubuh kecil yang dengan gesit sanggup memanggul 1 karung beras berisi 25 kilogram ke rumah langganannya. Dia tinggal di pinggiran gunung, katanya. Dua kali seminggu dia menyambangi rumah-rumah di komplek tempat saya tinggal, untuk menjual apa saya yang dia bawa dari kampung, entah sayuran, makanan camilan, atau gula merah, termasuk beras. Terkadang saya heran, dari manakah tenaga sekuat itu ?
Perempuan berikutnya adalah wanita pedagang sayur keliling. Setiap pagi dia mendorong rodanya mengelilingi komplek kami yang jalanannya naik turun, karena memang daerahnya berbukit-bukit.
Perempuan lainnya adalah seorang pedagang ubi. Sekarung ubi seberat lebih dari 12 kilogram dia jajakan di sekeliling komplek. Harga ubi itu sekitar Rp. 2.500 per kilonya. Kalau saja terjual semuanya mungkin hanya sekitar 30.000 saja dia peroleh. Tapi saya tahu tak mudah menjual semua ubi kalau hanya mendatangi satu komplek. Bisa jadi dia harus berjalan melewati sawah-sawah menuju kampung di seberang komplek untuk membuat ubi itu habis terjual. Namun hebatnya, dia selalu nampak tersenyum optimis saat menjajakan dagangannya.
Nah! Saya jadi malu melihat mereka. Saya yang sebentar-sebentar sakit, padahal nggak memikul barang-barang berat, rasanya memang sangat tak pantas untuk mengeluh. Saya yakin, mereka pun bukannya tak merasakan lelah, tapi mereka terlampau gigih untuk mengeluh. Apapun latar belakang mereka, sungguh buat saya, mereka telah menjadi sumber inspirasi untuk kekuatan saya menjalani hidup.

Subhanallah..
Sungguh mereka sangat habt, awnita yang benar2 tangguh..
Kita patut mengapreisasi mereka, apalagi mencontoh kegigihannya..
Salam hangat Bocahbancar……
Inspirasi memang kita peroleh dari luar jasmani kita. Pengalaman tak mesti dilakukan atau dialami sendiri, tapi bisa dari orang lain yang memberikan inspirasi serta pelajaran.
Nabi Ibrahim, AS dalam proses pencarian Tuhan, memperoleh inspirasi benda2 diluar jasmaninya ; matahari, bulan, bintang, dan awan. Seorang bayi tentu tak mengenal dirinya sendiri, tapi benda yang amat dikanalnya adalah tetek ibunya. Begitu pun Balita yang tak mengenal Tuhan, tapi terlebih dulu mengenal benda2 ciptaan Tuhan. Jadi, tak benar perkataan ‘kenalilah dirimu sebelum mengenal Tuhan’.
Itu cuma ilustrasi. Manusia selain memiliki jasmani, juga memiliki jiwa. Jasmani sebagai badan kasar bersifat fana. Jasmani boleh ringkih, tapi jiwa adalah sumber kekuatan. Para wanita yang seperti anda gambarkan itu memiliki jiwa yang penuh semangat untuk menjalani kehidupan. Rise up ! Don’t be unsinkable soul !
Salam dari tenggara pulau kalimantan, silakan mampir di http://www.imisuryaputera.co.cc