Selama beberapa kali pindah rumah, baru kali ini saya merasa sangat nyaman bertetangga. Bukan berarti tetangga di rumah-rumah sebelumnya bermusuhan dengan kami, tapi kali ini hubungan pertetanggaan terasa lebih mutualis: Tanpa sadar ada rasa saling menjaga satu sama lain, ingin memberi satu sama lain, dan saling menghadiahkan senyuman satu sama lain.
Hal yang palingĀ indah adalah keinginan untuk saling berbagi, terutama berbagi tanaman. Saya memang hobi merawat tanaman akhir-akhir ini. Mungkin karena para tetangga yang rata-rata usianya jauh lebih tua dari saya, melihat saya konsisten bercocok tanaman (meski hanya di dalam polybag atau pot). Oleh karena itulah, hati mereka jadi tergerak untuk menambah koleksi tanaman saya.
Tiba-tiba saja, tetangga saya yang pensiunan guru membawa satu pot tanaman asing dari Thailand yang menurut beliau sangat manjur untuk mengobati luka. Tentu saja itu hadiah gratis. Hari lainnya, saat saya meminta batang kenanga untuk distek, tetangga saya sebelah rumah menghadiahkan tanaman lainnya yang juga biasa dipakai untuk mengobati luka terbuka.
Dan yang paling hebat, di minggu ini, tetangga depan rumah saya menghadiahi saya sebuah pohon lengkeng yang sudah tumbuh hampir mencapai 2 meter tingginya. Beliau wanti-wanti untuk mengajaknya ikut berkunjung ke rumah baru kami di Tanjung Sari nanti.
Aduh senangnya! Saya juga tak lupa menghadiahi mereka dengan masing-masing satu pot sirih yang saya stek sendiri di dalam polybag. Sebagian yang lain saya hadiahi satu polybag sawi putih yang sudah menjelang panen. Beberapa orang memang belum kebagian, tapi saya berjanji akan memberikannya setelah agak santai untuk kembali membuat steknya.
Saya berdoa, mudah-mudahan pertetanggaan saya di Tanjung Sari nanti juga seindah saat ini. Setidaknya, setelah kami berkenalan dengan satu keluarga di belakang rumah di sana beberapa minggu yang lalu, saya optimis lingkungan sosial kami di sana juga akan sangat menyenangkan. Amin.
