Apa yang harus kita lakukan saat berhadapan dengan jalanan curam di depan dan tanjakan yang menjulang di belakang? Saya menghadapi situasi itu saat berkeliling kebun raya Cibodas tanggal 1 Oktober yang lalu. Meskipun Cibodas sudah cukup akrab saya kenali, namun memang belum pernah saya berkeliling dengan kendaraan. Karena tidak tahu rute, akhirnya kami terjebak di jalanan amat curam, dengan kemiringan hampir 30 derajat. Mau mundur ke belakang juga tak mungkin, karena jalan hanya satu arah, tak cukup luas menampung dua mobil. Ironisnya, rem mobil yang kami tumpangi juga sedang dalam reparasi, diperkirakan sangat labil jika berhadapan dengan turunan setajam itu.
Tapi… perjalanan harus berlanjut. Hari sudah menjelang malam, kami harus pulang. Satu-satunya keputusan yang bisa diambil adalah MAJU! Bismillah, sholawat dan takbir kami lantunkan. Perasaan tegang menyelimuti HATI. Tapi, baru saja lolos dari turunan yang satu, 10 meter kemudian kami berjumpa lagi dengan turunan kedua yang tak kalah curamnya. Hati terhenyak, bapa saya yang nyetir pun reflek berkata, “Duh, ngeri!”
Cuma kepasrahan yang akhirnya ada. Mobil pun maju pelan-pelan, dan puji syukur kepada Allah kami sampai di ujung turunan, masuk ke jalanan normal lagi. Suara-suara binatang senja yang menghiasi sepinya hutan buatan itu sedikit menambah rasa takut. Maklum saja, meski saya menyukai alam, tapi saya bukan anggota pecinta alam yang suka menjelajah hutan.
Nah, itulah pengalaman baru di hari lebaran kemarin. Setidaknya, hal itu adalah simbol kehidupan, bukan? Situasi-situasi berat yang membuat kita harus memilih dan tak mungkin memilih diam.
