Pernahkah Anda menghadapi salah satu dari peristiwa berikut ini: Sangat berharap pada seorang teman yang mengajukan diri untuk membantu pekerjaan kita, tapi kemudian kita harus kecewa karena ia membatalkannya disebabkan suatu alasan. Sangat optimis mendapatkan bayaran 2 juta, tetapi hati kita menjadi ciut saat bayaran yang diterima ternyata hanya 500 ribu. Begitu gembira menanti kedatangan kerabat kita yang janjinya akan datang berkunjung, tapi akhirnya kita jadi tak bersemangat saat tak seorang pun muncul hingga hari berganti pagi. Begitu bahagia ketika sebulan sebelumnya tante dan keluarga dekat kita mengatakan akan hadir di acara wisuda kita, tapi dada kita menjadi sesak saat pada hari H tak satu pun yang hadir karena tante kita tiba-tiba sakit. Sangat berharap agar seseorang yang sangat kita sukai dan kita kagumi menjadi pasangan hidup kita, tapi hati kita akhirnya meradang karena hingga tiba masanya kita siap untuk mengakhiri masa lajang, kita tak pernah bisa bertemu dia lagi.
Kalau Anda pernah mengalami salah satu saja dari situasi di atas, atau mungkin mirip-mirip dengan situasi di atas, menurut Andrew Matthews dalam Follow Your Heart, itu menunjukkan bahwa kita telah terjebak pada kondisi terlekat.
Perasaan terlekat pada sesuatu, baik itu barang, uang, ataupun orang ternyata lebih sering membuat kita kacau daripada tenteram. Matthews mengungkapkan sebuah kalimat bagus, Tantangan kehidupan adalah menghargai segalanya dan tidak terlekat pada apapun. Hal itu berarti bahwa kita selalu memiliki alternatif pilihan dan tak pernah bergantung seratus persen pada upaya-upaya tunggal. Al Quran pun menyitir hal tersebut, “…Janganlah kamu mengatakan akan melakukan ini esok hari, kecuali dengan mengatakan ‘Insya Allah”. Kita harus selalu siap dengan dua kondisi, jika berhasil dan juga jika gagal.
Saya pernah membaca sebuah novel yang mengisahkan seorang wanita yang menjadi gila saat suaminya meninggal dunia. Pada buku Laskar Pelangi saya juga menemukan kisah seorang anak yang begitu dekat dengan ibunya, hingga ia urung untuk pergi merantau dan bersekolah lebih tinggi, hanya karena tak mau jauh dari sang ibu. Bahkan tragisnya, kedua ibu dan anak itu akhirnya masuk rumah sakit jiwa karena keterlekatan mereka. Setelah saya baca Follow your Heart, saya rasa itulah contoh dari perasaan terlekat yang begitu dalam. Kita menjadi sangat-sangat kecewa dan selalu murung dalam menghadapi hidup. Dunia seolah menjadi tempat yang tak ramah di setiap sudutnya.
Memang, hidup selalu berisi dua hal secara bergantian, kesedihan dan kegembiraan, kekalahan dan kemenangan, kasih sayang dan kebencian, baik dan buruk, dan kontradiksi-kontradiksi lainnya. Perbedaan orang-orang yang berhasil dengan orang-orang yang gagal adalah terletak pada bagaimana ia bersikap dalam menghadapi semua itu. Mathews menulis satu kalimat inspiratif lagi, Misi Anda dalam kehidupan bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan bersemangat.
Semoga kita bisa menjadi insan-insan yang selalu berupaya memperbaiki diri dan tak terlekat pada apapun secara berlebihan, kecuali kecintaan kita kepada Allah SWT.
