Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya di minggu pertama bulan April. Sepulang bepergian bersama adik saya, hari sudah malam. Pada perjalanan pulang, kami naik angkot yang hanya berisi sekitar lima orang penumpang. Awalnya semua tampak biasa saja, tapi hal itu berubah ketika mulai naik 5 orang penumpang lain, laki-laki bertubuh tinggi besar. Wajah-wajah mereka tampak hampir mirip satu sama lain. Aura tak sedap mulai saya rasakan ketika dua orang di antaranya tampak senyum-senyum nggak jelas. Satu orang yang bertubuh paling gemuk, terus merangsek, mendesak dari ujung bangku, dengan dalih nggak bisa duduk dengan nyaman karena sempit.
Hati saya mulai curiga, bahwa mereka adalah sekelompok pencopet, karena sudah beberapa kali saya melihat gelagat semacam itu dari para pencopet di angkot. Saya akhirnya yakin bahwa mereka adalah pencopet, ketika lelaki paling gemuk berteriak dengan kasar pada temannya,”Apa sih nginjek-nginjek segala! Udah tahu sempit gini!”. Saya pun berbisik pada adik saya, “Copet, yuk, turun!”. Saya pun minta sopirnya berhenti. Tapi ajaibnya, ketika kami hendak keluar, kaki-kaki mereka yang besar menghalangi jalan kami. Saya agak terkesiap, tapi mencoba tetap tenang. Saya bilang dengan sopan, “Punten-punten, mau ikut lewat”.
Mereka akhirnya memberikan jalan. Saya merasa yakin saja, bahwa adik saya sudah sigap memegangi tasnya. Tapi, saat angkot itu pergi adik saya terpekik, “HP mana?!”
Yup! perasaan yang tak karuan makin tak karuan. Saya memeluk adik saya dan bilang, “Udah, alhamdulillah nyawa kita masih selamat”. Saya bahkan tak bisa membayangkan andai kami masih terus di dalam angkot, bisa jadi bukan hanya handphone yang hilang tapi nyali kami pun menciut karena mereka bisa menodongkan senjata untuk mengancam kami.
Semalaman hingga pagi harinya perasaan masih tak tenang, bayang-bayang peristiwa itu terus mengganggu. Sedikit trauma. Tapi, ayah saya tiba-tiba menelpon, minta tolong dipesankan dua tiket pesawat untuk anak temannya yang mau pulang ke Pekanbaru. Meski awalnya agak terpaksa, saya pun periksa koran dan menelpon salah satu travel. Setelah informasinya saya dapatkan, ayah saya telpon lagi dan info itu saya bacakan ulang.
CLINK! Ajaib juga. Suara ayah saya yang gembira di ujung telpon membuat perasaan gundah yang susah hilang itu mendadak pergi begitu saja. Saya terpesona sendiri dengan keadaan itu. Ketika saya ceritakan hal itu pada suami saya, dia bilang, “Bener kan resep yang pernah saya bilang: Kalau hati gelisah, bantulah orang lain!“. Dan… ternyata resep itu memang mujarab buat saya. Alhamdulillahirabbil’alamiin.
