Sebuah ungkapan pendek membuat saya agak terhenyak, “Bangkitkan imajinasimu dan bukan kenanganmu”. Dua kata itu nyaris tak ada bedanya jika konteksnya adalah menjelajahi pikiran. Perbedaannya baru akan tampak jika kita melihat efek dari keduanya.
Kenangan itu sebenarnya tak ubahnya bak fatamorgana. Sejauh dan sekuat apapun kita berlari untuk menghampirinya kembali, hasilnya hanyalah bayangan semu. Meski ada hal-hal fisik yang tertinggal dari sebuah kenangan, nyatanya semua itu bukanlah realitas. Berfokus pada kenangan hanyalah membuang-buang waktu dan membuat waktu kita untuk menata masa depan menjadi terganggu.
Memang tak mudah mengabaikan kenangan, terlebih jika kenangan itu berkaitan dengan masalah perasaan, baik haru, senang, ataupun marah. Tapi, waktu terus berjalan menciptakan kenangan baru. Jangan sampai jejak langkah hari ini menjadi kenangan buruk di masa depan.
Imajinasi adalah kembaran idea. Berselancar untuk menemukan ide-ide baru yang bermanfaat adalah cara terbaik untuk mengisi waktu. Saya mencoba melakukan itu dengan berjalan-jalan, meminta ijin suami untuk sekedar melihat-lihat sumber inspirasi di luar rumah sendirian. Kadang-kadang bersepeda keliling komplek atau menyambangi toko buku. Ternyata hal itu cukup menyenangkan dan membantu saya untuk melupakan macam ragam kenangan yang kadang memengaruhi cara berpikir saya. Mungkin saya harus terus memperbanyak kegiatan itu daripada mengenang masa lalu yang kian lapuk di makan waktu.
