Abraham Lincoln berkata, “Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan jika kau memang cukup kuat dalam menginginkannya. Kau bisa menjadi apapun yang kauinginkan dan melakukan apapun yang ingin kaucapai jika kau bertahan pada keinginan itu dengan satu tujuan spesifik dan jelas” (Diambil dari buku ramuan Mas Hernowo berjudul Self-Digesting, halaman 36). Masalahnya, apakah kita punya keinginan dan cita-cita?
Seringkali cita-cita itu samar tersembunyi di balik rutinitas hidup. Sekalipun begitu, saya kini semakin yakin, bahwa kita akan merasa HIDUP jika ada cita-cita yang ingin kita capai.
Memang nampaknya, ada fase tertentu dalam hidup seseorang, di mana ia kebanjiran cita-cita. Ironisnya, masa itu terjadi, justru ketika di depannya hadir begitu banyak masalah dan ia berada dalam keadaan serba berkekurangan. Memang tak semua orang memiliki mental yang gigih untuk meraih apa yang diimpikannya, tapi dalam banyak kisah-kisah heorik tentang para pejuang cita-cita, mereka lebih fight saat dirinya berada pada kondisi marginal, tersisih, dan minus, namun semangat berubah jadi lemah manakala mereka tersandung kondisi mapan dan merasa serba cukup.
Bagi saya kondisi itu sangat berbahaya. Setelah lulus kuliah 8 tahun yang lalu, dan saya memilih tidak bekerja di luar rumah, tanpa sadar ada yang menggerogoti semangat hidup saya. Awalnya saya tidak mengerti, mengapa saya sering merasa sedih dan tidak berarti, namun beberapa waktu terakhir saya menyadari, bahwa hal itu disebabkan karena saya menutup sendiri akses terhadap lahirnya cita-cita. Tak ada yang diperjuangkan ternyata membuat manusia hanya menjadi mayat hidup. Ia bernapas, berbicara, tersenyum, makan, dan minum, tapi hatinya mati suri. Pengalaman batin saya menunjukkan, hanya cita-cita yang membuat kita merasa HIDUP.
Bisa jadi kita yang tak terbiasa menciptakan sendiri sebuah cita-cita, akan merasa kebingungan saat lulus sekolah. Meski sekolah banyak dihujat karena berbagai masalahnya, namun tanpa sadar, sekolah telah menjadi alat penting untuk membuat orang merasa punya cita-cita. Setidaknya, selalu ada yang perlu dicapai, mungkin lulus ujian semester, menyerahkan tugas, mencapai nilai A, atau mendapat ijazah. Karena itulah mungkin ada beberapa mahasiswa menghabiskan jatah waktu kuliahnya sampai habis. Ya, karena status mahasiswa menjadi jauh lebih berarti daripada mendapat gelar sarjana tapi tak tahu harus menjadi apa dan mengerjakan apa. Alangkah mirisnya, bukan?
Orang bijak mengatakan, “Andai cita-cita itu begitu pelik untuk dicari karena kita sendiri merasa tak punya masalah untuk diselesaikan, maka carilah cita-cita dari pikiran orang-orang di sekeliling kita dan masalah orang-orang terdekat kita, atau kampung tempat orang tua dan saudara-saudara kita tinggal.”
Setelah dipikir-pikir, saya kira hal itu ada benarnya. Kalaulah perasaan ‘berjuang’ itu ternyata lebih mudah keluar di saat penuh kesempitan, maka kesulitan orang lain sangat mungkin mampu menumbuhkan cita-cita di benak kita. Bukankah sebenarnya, di sekeliling kita pun bertebaran masalah yang menunggu bantuan siapa saja yang mau membantu. Coba saja lihat daftar masalah ini:
1. Kurangnya minat baca anak-anak,
2. Tayangan TV yang kurang mendidik
3. Kurangnya guru yang berkualitas
4. Bertambahnya jumlah anak jalanan
5. Saluran air yang mampet dan membuat jalanan banjir
6. Hutan yang gundul,
7. Kurangnya minat anak-anak terhadap sektor pertanian
8. Menyempitnya lahan pertanian
9. Banyak anak putus sekolah
10. Maraknya trafficking,
11. Tidak meratanya bahan bacaan bermutu bagi masyarakat desa
12. Mahalnya biaya sekolah
13. Minimnya pelajaran lifeskill di sekolah-sekolah
14. dan lain-lain, dan banyak lagi.
Kalau kita daftar semua masalah yang ada, pasti akan begitu banyak kandidat cita-cita. Demi semangat hidup, demi memperkuat rasa syukur, demi tujuan penciptaan yang mulia, tak ada salahnya kalau kita menuliskannya mulai hari ini.
Feb 03, 2008 @ 11:08:31
betul skali tuh yang 14 point di atas, semuanya menjadi masalah berat sekarang….. kayaknya pemerintah harus mengevaluasi kembali kebijakan2nya supaya berpihak pada hal2 tersebut di atas
Tetaplah kritis dan berpikir merdeka..
Salam
Feb 22, 2008 @ 06:23:38
Menemukan sebuah cita-cita bisa dimulai dengan melihat orang lain dan tentunya juga “menekuri” dan “merefleksi” diri sendiri. Banyak orang yang punya cita-cita, namun hanya sebuah “wacana” dan tidak pernah ada usaha untuk mewujudkan keinginan tersebut. Teori tanpa praktik ibarat belajar berenang tanpa pernah menyentuh air. Rendra si “Burung Merak” berkata dalam puisinya, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Demikian pula melihat berbagai sampah permasalahan yang demikian kusut di sekeliling kita, saya pikir yang harus kita perbuat adalah LAKUKAN SEBISA SEKEMAMPUAN KITA, SEKARANG!. Jangan berharap orang lain atau pemerintah merubah keadaan ini. Terima kasih.
Okt 09, 2011 @ 14:44:19
ini sangat berarti buat q…..