Hidayah

Tinggalkan komentar

Tarik ulur kapan mau mulai pakai. Barang 2 potong sudah ada cadangan. Desakan teman-teman mentoring yang tak lelah memotivasi terus terngiang. Kata-kata guru agama semasa SMA tak henti mengganggu. Jilbab, perempuan muslimah wajib menutup aurat seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Tahu, ngerti, takut murka Allah, ingin menaati Allah, ingin mematuhi Al Quran, tapi….. tak semudah itu jilbab terulur. Syaitan tak pernah membiarkan manusia mendekatkan hatinya pada Allah.

Saat hati berhasil melawan berbagai bisikan penundaan, syaitan terlempar. Hari itu, Ahad sore kalau tidak salah. Berangkat dari rumah menuju tempat kos, saya mulai mengenakan kerudung untuk pertama kalinya. Dan esoknya saya mengenakannya juga saat berangkat kuliah. Saya, dengan kasih sayang-Nya telah berhasil melawan penundaan itu.

Tidak mudah hidayah itu datang. Tidak murah hidayah itu terhidang di hadapan kita. Meski awalnya terasa pahit, hidayah sesungguhnya perlahan menghampiri setiap insan. Akan tetapi, tak semua orang ternyata peka terhadap kehadirannya, sehingga tak semua orang juga bersuka cita menyambutnya.

Hidayah itu mahal harganya sehingga berjuang untuk mempertahankannya adalah keniscayaan bagi mereka yang ingin keridhaan Allah tetap meliputi dirinya.

Ya Rabb, hamba syukuri nikmat yang telah Engkau berikan melalui semesta jalan yang Engkau bentangkan. Semoga Engkau tetapkan petunjuk itu di dalam hati ini, semoga Engkau tetapkan hati saudari-saudariku kaum muslimah untuk terus mengenakan pakaian terbaik yang telah Engkau ajarkan mereka untuk memakainya.

Kerudung, apalah artinya jika dipandang hanya selembar kain penutup kepala. Hanya dalam pandangan iman semua itu menjadi berarti.

Tamu Dadakan

1 Komentar

Salah seorang teman virtual saya, Mbak Anna Farida tiba-tiba memecah teriknya siang. Suaranya terdengar terburu-buru di telepon. Rupanya beliau lewat kawasan Tanjungsari, sepulang dari Jawa Tengah. Saya sampai tak percaya kalau suara di telepon itu suara Mbak Anna.Wah, seneng banget. Sekadar dokumentasi, ini foto kita berdua, Mbak Anna:

Ini putrimu yang pintar tea sedang sibuk main pasir:

Obrolan kami ke mana-mana. Sebelumnya pernah 2 kali kami ketemu (di launching ASPIRASI Bandung dan Pelatihan Nulis Buku Nonfiksi Metode Matriks di Salam Book House) — Tolong Mbak Anna koreksi kalau keliru ya :) —. Sayang waktu itu nggak sempat ngobrol. Ternyata setelah ketemu khusus memang seru :) .

Asyiknya, putri Mbak Anna dengan mudah mau bergabung dengan anak-anak saya. Segambreng mainan dikeluarkan, lalu ditaruh di atas tikar, di halaman. Setelah itu lanjut main pasir. Azkia ternyata memang cukup terampil mengasuh. Jadi saya dan Mbak Anna bisa ngobrol panjang.

Waktu berjalan cepat rasanya. Saat pulang pun tiba. Mata si kecil Luthfa nampak memerah saat diajak bersiap. Sedikit terpaku, enggan beranjak. Masih betah rupanya :) . Tapi 2 atau 4 bunga tapak dara berwarna putih dan merah muda ternyata bisa menghiburnya sebelum akhirnya terpaksa naik mobil.

Terima kasih buat Mbak Anna Farida atas kunjungannya. Tapi mohon maaf, karena dadakan, kami tidak siap-siap menyediakan kudapan. Kapan-kapan, mudah-mudahan kita ditakdirkan bisa bertemu lagi :)

Salah Sangka

1 Komentar

Cerita ini adalah salah satu kekonyolan, tapi mungkin juga berhikmah, meski tidak langsung bisa ditemukan sekarang hikmahnya.

Setelah hampir 4 hari merasakan sakit gigi yang membuat saya mengalami sakit kepala akut, saya memutuskan pergi ke dokter gigi. Apa lagi kalau bukan untuk dicabut. Sejauh pengalaman hidup dengan berkali-kali sakit gigi, saya belum pernah merasakan sembuh total jika gigi mulai berlubang, kecuali gigi bermasalah itu dicabut. Tapi, berkali-kali juga saya ke dokter gigi dan minta dicabut saat sakit, tak ada satupun yang mau melakukannya kecuali satu orang dokter wanita di salah satu apotek dan teman saya (dokter gigi) karena saya memaksanya :) .

Singkat cerita, saya memilih untuk mendatangi si dokter wanita. Sayangnya, ia praktek mulai jam 5 sore. Sementara lokasi prakteknya di wilayah cibiru. Tempat itu cukup jauh dari rumah. Akhirnya atas inisiatif suami, saya menghubungi apotek tempatnya praktek untuk menanyakan di mana sang dokter pada pagi atau siang hari.

Petugas apotek di telepon itu untung berbaik hati mau memberikan informasi di mana dokter itu praktek di pagi hari. Saya belum tahu tempatnya, tapi merasa sanggup menemukannya dengan bertanya di jalan. Jadi, keesokan harinya saya berangkat pagi-pagi dari rumah. Dengan berbekal info dari seorang ibu yang ada di sekitar bundaran cibiru saya naik ojek ke lokasi kerja sang dokter di sebuah puskesmas.

Untung, selalu, akhir-akhir ini saya selalu mencoba menikmati perjalanan ke tempat-tempat baru sebagai sebuah ‘petualangan’. Jika pun saya gagal menemukan si dokter, saya sudah siap menganggap perjalanan coba-coba itu sebagai ‘hadiah’, yang membuat saya tahu satu lagi daerah yang semula asing buat saya. Mungkin suatu hari hal itu berguna, wallahualam bish shawwab.

Sekitar 15 menit berlalu, ojek terus naik menanjak. Ternyata lokasi puskesmas itu memang tidaklah terlalu dekat dari jalan raya. Tapi saya mencoba bersabar sampai akhirnya tiba juga di sana.

Mata langsung menohok tulisan BP Gigi saat memasuki halaman puskesmas. Saya bergegas ke sana, tapi ternyata pendaftaran tetap di loket umum. Bayar pendaftaran sangat murah, khas puskesmas, cukup dengan Rp. 3.000 saya bisa mendapat kartu pemeriksaan. Meski para petugas pusukesmas terasa menunjukkan sikap kaku, saya coba abaikan semua itu dan berlaku santai.

Masuk ke ruang gigi, hanya ada 2 orang, dan saya memasukkan form pemeriksaan ke petugas di dalam ruangan. Aura negatif sedikit menyebar. Dokter yang sedang duduk di depan meja, tangannya menekuk menyangga kepala. Sungguh bahasa tubuh yang tak nyaman dilihat. Samar saya ingat, memang dia-lah dokter yang saya maksudkan. Berarti kepergian saya ke puskemas itu tidak-lah sia-sia.

Sayang, Ia bertanya kaku, “Kenapa, Bu?”. Tak ada senyum di wajahnya. Saya coba menghibur diri, “Ah, mungkin dia juga sakit gigi?” :)

Saya bilang, “Gigi berlubang. Sakit”. Tapi raut muka dokter tak juga berubah jadi ramah. Ia tetap kaku dan nyaris ketus, “Jadi, mau digimanain?”. Wah! situasi yang benar-benar nggak enak. Reflek saya akhirnya bertanya apakah dia dokter X yang praktek di apotek Y? Ia mengiyakan, dan saya pun bercerita pada sang dokter bahwa saya pernah diperiksa olehnya di apotek itu, tapi karena jam prakteknya sore, terpaksa sekarang mencarinya lagi ke puskesmas ini supaya bisa ketemu pagi-pagi.

Sungguh sangat manusiawi, bukan? Orang akan tersanjung dan merasa berharga dalam konteks seperti itu. Saya dengan jelas bisa melihat perubahan sikap dan aura wajahnya. Ia memeriksa saya dan bilang, “Kenapa nggak ke bawah aja, kan lebih dekat. Lagian di sini alat-alatnya kurang lengkap”.

Selintas saya pun bisa melihat bahwa ruangan praktek gigi di puskesmas itu sangat minim. Jauh berbeda dengan di ruang praktek di apotek yang penuh. Dalam hati, saya bergumam, “Pantesan dia kayak kurang semangat di sini:)”….. BERSAMBUNG.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.