Feeds:
Tulisan
Komentar

Menawar Barang Dagangan

Di mana-mana rasanya memang sudah tak aneh jika kaum ibu, termasuk saya, menawar barang yang akan dibeli. Akan tetapi, semenjak saya tinggal di Tanjungsari, di mana komplek tempat saya tinggal sedikit berbukit, sehingga orang harus bersusah payah jalan menanjak untuk mencapainya, saya jadi tak tega untuk menawar walau hanya 500 rupiah saja dari harga yang ditawarkan pedagang.

 

Berawal dari situ, akhirnya saya pun merenung tentang kebiasaan sebagian besar kaum ibu dalam menawar barang dagangan. Saking inginnya ada penurunan harga, bahkan turun 500 rupiah pun dikejar. Padahal kalau dipikir-pikir, sesungguhnya penurunan harga yang hanya 500 atau seribu tidaklah terlalu berarti buat kita, karena jujur saja, saya pribadi terkadang melakukannya hanya karena “ego” supaya kita menang dalam adu tawar..  Tapi ironisnya, tak jarang barang atau makanan yang sudah dibeli  dengan harga miring itu justru disia-siakan.

 

Nah! Bagaimana buat para pedagang?  Bisa jadi kita bahagia sejenak karena harganya jadi turun, tapi sangat tidak demikian buat pedagang. Terlebih buat para pedagang keliling, setiap rupiah yang kita “korting” adalah penurunan pendapatan yang bisa jadi cukup besar pengaruhnya buat mereka. Bisa jadi setelah diperhitungkan, 500 atau 1000 itulah keuntungan mereka, karena sebelum barang dagangannya habis, mereka sesungguhnya belum bisa melihat apakah kegiatan perniagaan mereka menguntungkan ataukah tidak. Apalagi jika kalkulasinya ditambah dengan ongkos cape mereka berkeliling, di bawah terik matahari yang menyengat, berkilo-kilo jauhnya, wah! Saya tidak tahu apakah cukup sepadan harga yang mereka berikan buat konsumen.

 

Mengingat semua itu, saya hanya ingin mengetuk hati siapapun yang suka menawar barang secara berlebihan agar menjadi lebih berempati pada para pedagang, khususnya para pedagang kecil. Di saat kondisi perekonomian yang tidak stabil, bukankah kemauan orang untuk berjualan  juga sudah merupakan sebuah prestasi jika dibandingkan dengan mereka yang mengambil hak orang lain secara tidak halal atau seharian berpangku tangan berputus asa?

Para Pendekar Perempuan

Sebenarnya saya termasuk ringkih.  Beberapa hari bugar, besoknya masuk angin, atau sebentar-sebentar sakit kepala.  Entah sejak kapan awalnya, tapi begitulah yang terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Menyadari kondisi tubuh yang tak selalu fit, sekarang  saya jadi maniak kerja keras di saat kuat. Lelah bukan lagi musuh, tapi energi untuk terus bekerja. Dan dengan cara itu, saya jadi merasakan betul nikmatnya istirahat di sore hari.

Keasyikan bercocok tanam, memang membuat kulit jadi lebih gelap ya. Tapi melihat sayuran sudah mulai tumbuh dan bahkan bisa dipanen, rasa lelah tak lagi terasa.

Hal itu membuat saya menjadi sadar, mungkin itulah yang dirasakan para “pendekar” perempuan yang saya temukan di kawasan Tanjungsari  ini. Perempuan yang satu adalah tukang beras bertubuh kecil yang dengan gesit sanggup memanggul 1 karung beras berisi 25 kilogram ke rumah langganannya. Dia tinggal di pinggiran gunung, katanya. Dua kali seminggu dia menyambangi rumah-rumah di komplek tempat saya tinggal, untuk menjual apa saya yang dia bawa dari kampung, entah sayuran, makanan camilan, atau gula merah, termasuk beras. Terkadang saya heran, dari manakah tenaga sekuat itu ?

Perempuan berikutnya adalah wanita pedagang sayur keliling. Setiap pagi dia mendorong rodanya mengelilingi komplek kami yang jalanannya naik turun, karena memang daerahnya berbukit-bukit.

Perempuan lainnya adalah seorang pedagang ubi. Sekarung ubi seberat lebih dari 12 kilogram  dia jajakan di sekeliling komplek.  Harga ubi  itu sekitar Rp. 2.500 per kilonya.  Kalau saja terjual semuanya mungkin hanya sekitar 30.000 saja dia peroleh. Tapi saya tahu tak mudah menjual semua ubi kalau hanya mendatangi satu komplek. Bisa jadi dia harus berjalan melewati sawah-sawah menuju kampung di seberang komplek untuk membuat ubi itu habis terjual. Namun hebatnya, dia selalu nampak tersenyum optimis saat menjajakan dagangannya.

Nah! Saya jadi malu melihat mereka. Saya yang sebentar-sebentar sakit, padahal nggak memikul barang-barang berat, rasanya memang sangat tak pantas untuk mengeluh. Saya yakin, mereka pun bukannya tak merasakan lelah, tapi mereka terlampau gigih untuk mengeluh. Apapun latar belakang mereka, sungguh buat saya, mereka telah menjadi sumber inspirasi untuk kekuatan saya menjalani hidup.

Nostalgia

Sore ini saya periksa lagi update terbaru situs dunia tumbuhan www.plantamor.com. Banyak tambahan profil tumbuhan rupanya. Satu jenis tumbuhan yang baru saya lihat adalah nam nam. Tumbuhan ini memang sudah termasuk langka.  Generasi sekarang mungkin sudah nyaris tak pernah menemukan, apa lagi mencicipi buahnya.

Namun di luar semua itu, nam nam mengingatkan saya pada masa SD di kampung.  Salah seorang teman memiliki tumbuhan ini di halaman rumahnya. Adakalanya, saat pohon ini berbuah, kami diajak ke rumahnya sepulang sekolah atau ia membawanya ke sekolah dan membagikannya kepada kami. Tak lupa, teman saya ini juga membawa sejumput garam untuk menambah rasa.

Rasanya yang asam cocok dimakan saat istirahat siang. Dan yang paling asyik adalah setelah buah itu habis dicicipi.  Meminum segelas air putih menciptakan rasa manis di lidah, meski tanpa memakai gula.

O’ya… Buah nam-nam juga unik seperti halnya belimbing wuluh. Buahnya tumbuh di sepanjang batang, termasuk batang besarnya, dan bukan di dahan kecil yang terlindung daun.

Ya, begitulah. Pencarian saya di internet hari ini membuat nostalgia masa SD terkuak lagi.  Meski sekolah kami hanya sekolah kampung, tapi seingat saya,  suasana kampung membuat bersekolah justru  terasa lebih  indah.

Tulisan Sebelumnya »