Di mana-mana rasanya memang sudah tak aneh jika kaum ibu, termasuk saya, menawar barang yang akan dibeli. Akan tetapi, semenjak saya tinggal di Tanjungsari, di mana komplek tempat saya tinggal sedikit berbukit, sehingga orang harus bersusah payah jalan menanjak untuk mencapainya, saya jadi tak tega untuk menawar walau hanya 500 rupiah saja dari harga yang ditawarkan pedagang.
Berawal dari situ, akhirnya saya pun merenung tentang kebiasaan sebagian besar kaum ibu dalam menawar barang dagangan. Saking inginnya ada penurunan harga, bahkan turun 500 rupiah pun dikejar. Padahal kalau dipikir-pikir, sesungguhnya penurunan harga yang hanya 500 atau seribu tidaklah terlalu berarti buat kita, karena jujur saja, saya pribadi terkadang melakukannya hanya karena “ego” supaya kita menang dalam adu tawar.. Tapi ironisnya, tak jarang barang atau makanan yang sudah dibeli dengan harga miring itu justru disia-siakan.
Nah! Bagaimana buat para pedagang? Bisa jadi kita bahagia sejenak karena harganya jadi turun, tapi sangat tidak demikian buat pedagang. Terlebih buat para pedagang keliling, setiap rupiah yang kita “korting” adalah penurunan pendapatan yang bisa jadi cukup besar pengaruhnya buat mereka. Bisa jadi setelah diperhitungkan, 500 atau 1000 itulah keuntungan mereka, karena sebelum barang dagangannya habis, mereka sesungguhnya belum bisa melihat apakah kegiatan perniagaan mereka menguntungkan ataukah tidak. Apalagi jika kalkulasinya ditambah dengan ongkos cape mereka berkeliling, di bawah terik matahari yang menyengat, berkilo-kilo jauhnya, wah! Saya tidak tahu apakah cukup sepadan harga yang mereka berikan buat konsumen.
Mengingat semua itu, saya hanya ingin mengetuk hati siapapun yang suka menawar barang secara berlebihan agar menjadi lebih berempati pada para pedagang, khususnya para pedagang kecil. Di saat kondisi perekonomian yang tidak stabil, bukankah kemauan orang untuk berjualan juga sudah merupakan sebuah prestasi jika dibandingkan dengan mereka yang mengambil hak orang lain secara tidak halal atau seharian berpangku tangan berputus asa?
