Cerita ini adalah salah satu kekonyolan, tapi mungkin juga berhikmah, meski tidak langsung bisa ditemukan sekarang hikmahnya.
Setelah hampir 4 hari merasakan sakit gigi yang membuat saya mengalami sakit kepala akut, saya memutuskan pergi ke dokter gigi. Apa lagi kalau bukan untuk dicabut. Sejauh pengalaman hidup dengan berkali-kali sakit gigi, saya belum pernah merasakan sembuh total jika gigi mulai berlubang, kecuali gigi bermasalah itu dicabut. Tapi, berkali-kali juga saya ke dokter gigi dan minta dicabut saat sakit, tak ada satupun yang mau melakukannya kecuali satu orang dokter wanita di salah satu apotek dan teman saya (dokter gigi) karena saya memaksanya
.
Singkat cerita, saya memilih untuk mendatangi si dokter wanita. Sayangnya, ia praktek mulai jam 5 sore. Sementara lokasi prakteknya di wilayah cibiru. Tempat itu cukup jauh dari rumah. Akhirnya atas inisiatif suami, saya menghubungi apotek tempatnya praktek untuk menanyakan di mana sang dokter pada pagi atau siang hari.
Petugas apotek di telepon itu untung berbaik hati mau memberikan informasi di mana dokter itu praktek di pagi hari. Saya belum tahu tempatnya, tapi merasa sanggup menemukannya dengan bertanya di jalan. Jadi, keesokan harinya saya berangkat pagi-pagi dari rumah. Dengan berbekal info dari seorang ibu yang ada di sekitar bundaran cibiru saya naik ojek ke lokasi kerja sang dokter di sebuah puskesmas.
Untung, selalu, akhir-akhir ini saya selalu mencoba menikmati perjalanan ke tempat-tempat baru sebagai sebuah ‘petualangan’. Jika pun saya gagal menemukan si dokter, saya sudah siap menganggap perjalanan coba-coba itu sebagai ‘hadiah’, yang membuat saya tahu satu lagi daerah yang semula asing buat saya. Mungkin suatu hari hal itu berguna, wallahualam bish shawwab.
Sekitar 15 menit berlalu, ojek terus naik menanjak. Ternyata lokasi puskesmas itu memang tidaklah terlalu dekat dari jalan raya. Tapi saya mencoba bersabar sampai akhirnya tiba juga di sana.
Mata langsung menohok tulisan BP Gigi saat memasuki halaman puskesmas. Saya bergegas ke sana, tapi ternyata pendaftaran tetap di loket umum. Bayar pendaftaran sangat murah, khas puskesmas, cukup dengan Rp. 3.000 saya bisa mendapat kartu pemeriksaan. Meski para petugas pusukesmas terasa menunjukkan sikap kaku, saya coba abaikan semua itu dan berlaku santai.
Masuk ke ruang gigi, hanya ada 2 orang, dan saya memasukkan form pemeriksaan ke petugas di dalam ruangan. Aura negatif sedikit menyebar. Dokter yang sedang duduk di depan meja, tangannya menekuk menyangga kepala. Sungguh bahasa tubuh yang tak nyaman dilihat. Samar saya ingat, memang dia-lah dokter yang saya maksudkan. Berarti kepergian saya ke puskemas itu tidak-lah sia-sia.
Sayang, Ia bertanya kaku, “Kenapa, Bu?”. Tak ada senyum di wajahnya. Saya coba menghibur diri, “Ah, mungkin dia juga sakit gigi?”
Saya bilang, “Gigi berlubang. Sakit”. Tapi raut muka dokter tak juga berubah jadi ramah. Ia tetap kaku dan nyaris ketus, “Jadi, mau digimanain?”. Wah! situasi yang benar-benar nggak enak. Reflek saya akhirnya bertanya apakah dia dokter X yang praktek di apotek Y? Ia mengiyakan, dan saya pun bercerita pada sang dokter bahwa saya pernah diperiksa olehnya di apotek itu, tapi karena jam prakteknya sore, terpaksa sekarang mencarinya lagi ke puskesmas ini supaya bisa ketemu pagi-pagi.
Sungguh sangat manusiawi, bukan? Orang akan tersanjung dan merasa berharga dalam konteks seperti itu. Saya dengan jelas bisa melihat perubahan sikap dan aura wajahnya. Ia memeriksa saya dan bilang, “Kenapa nggak ke bawah aja, kan lebih dekat. Lagian di sini alat-alatnya kurang lengkap”.
Selintas saya pun bisa melihat bahwa ruangan praktek gigi di puskesmas itu sangat minim. Jauh berbeda dengan di ruang praktek di apotek yang penuh. Dalam hati, saya bergumam, “Pantesan dia kayak kurang semangat di sini:)”….. BERSAMBUNG.
komentar anda