Kemarin, kami berempat (saya, suami, dan dua anak saya) pergi ke Jatinangor untuk satu keperluan. Sebenarnya ingin sekalian ke Bandung, mencari bibit tanaman di dekat simpangan Buah Batu, tapi kami putuskan tidak karena hari sudah terlalu siang.
Saat turun di halaman sebuah pertokoan, di depan Rumah Makan Munggaran, tampaklah ada bazar produk Rabbani di halaman parkir. Ya, biasa, kaum perempuan memang suka penasaran untuk melihat-lihat. Ada kerudung, ada baju anak, baju dewasa, dll.
Setelah pilih-pilih, saya ambil satu kerudung buat Azkia. Harganya lumayan dibanting khusus produk itu. Senang juga.
Eh, tapi penasaran ingin lihat-lihat ke dalam toko, yang selama ini tak pernah saya sambangi sama sekali walau sering lewat ke situ. Wow! Banyak baju-baju yang menarik, manis, elegan. Baju anak muslim juga keren-keren lah pokoknya. Harganya bervariasi antara 60 – 300 ribuan tergantung modelnya.
Rasa penasaran juga membuat saya naik ke lantai 2 untuk memuaskan mata melihat-lihat. Menarik! Semuanya nampak menarik dan bagus. Sampai akhirnya tibalah waktunya harus mengambil keputusan apakah akan membeli salah satunya ataukah tidak.
Sejenak menerawang, mencoba mengingat suasana hati di saat-saat yang sudah lalu, ketika berada di toko pakaian, tapi sebenarnya tidak berniat beli pakaian sejak dari rumah. Bahkan buat lebaran yang 15 hari lagi akan datang, saya tak punya niatan beli-beli baju baru.
Tring! Keputusan pun pasti. Saya merasa yakin benar bahwa tak ada baju yang harus dibeli karena baju persediaan di rumah masih cukup memadai. Kalau beli lagi pastilah jadi menumpuk dan tak terpakai semuanya. Semua baju-baju baru yang tergantung di toko itu memang cantik, menarik, bagus, dan sejumlah hal-hal menggoda lainnya. Tapi, saya tidak membutuhkannya, walaupun baju dengan harga paling murah.
Jadi, saya hanya beli produk herbal lalu mengajak anak-anak keluar toko. Sampai di luar baru teringat bahwa di seberang jalan ada kios buku kecil yang menjual buku-buku cerita nabi. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat belikan anak-anak 10 seri dan mereka membacanya berulang-ulang.
Kami pun menyeberang jalan dan mulai ‘hunting’ buku murah. Alhamdulillah ada banyak seri nabi lainnya yang dipajang di rak kios buku itu. Ada 11 buku yang anak-anak ambil. Karena harganya discount, kami hanya mengeluarkan uang tak lebih dari 55 ribu untuk buku anak-anak. Saya pun mendapatkan tambahan buku referensi dari kios buku itu.
Kami pun pulang dengan puas, tanpa baju baru, tapi dengan buku-buku baru. Kalau baju akan segera usang setelah beberapa kali dipakai, tapi tidak dengan buku. Isinya akan terpatri di otak dan menjadi nutrisi penting yang akan membuat akal kita semakin terasah.
Ah, bersyukur…. godaan puasa kemarin terlampaui. Bukankah sudah terlalu lama budaya yang tidak tepat tentang hari raya telah membuat puasa hanya sebuah ritual kering. Menahan diri sementara lalu dibalas segera dengan berpuas-puas diri segera sesudahnya.
Wallahu alam bishawwab.
